Terdorong oleh asmara yang amat membara , Sangkurian yang sakti membendung sungai Citarum hingga terbentuk sebuah danau yang luas. Nyai Dayang Sumbi, wanita yang dilamarnya ,telah meminta mas kawin berupa sebuah danau beserta perahu yang harus dibuat dalam satu malam saja. Eiits,tapi bukan Tangkuban Perahu cerita berikut ini ,melainkan cerita kami bertujuh yang menyambangi Rawa Pening.
Rawa pening yang terletak tidak jauh dari Kota Semarang menjadi pilihan wisata singkat kami hari itu . Aku ,Mukthy ,Iqbal ,Nurul ,Evi ,dan dua orang kakak angkatan kami mas Yanto dan mbak Vita ,melaju dengan empat motor melalui keramaian jalur Semarang Solo dalam lalulintas yang lambat . Topografi yang semakin menanjak lantas membuat perbedaan suhu saat kami lalui .”jadi lebih dingin euy “ batinku.
Tanpa hambatan yang besar Alhamdulillah kami sampai di Kecamatan Banyubiru yang letaknya berdekatan dengan Rawa Pening . Saya yang berboncengan dengan Carrier 60 liter melaju di depan lantaran sudah empat kali berpergian ke Rawa Pening . Yang menarik bentang alam di sekitar rawa pening merupakan bukit-bukit yang besar dan hutannya yang heterogen yang menjadi karakter gunung-gunung di pulau jawa .
Danau dangkal ini tidak hanya menampilkan pesona alamnya saja ,tetapi interaksinya yg memukau meskipun dimalam hari pun tetap nyata . Nelayan Rawa di malam hari bertebaran di Rawa dengan lampu minyak, cahayanya bagai bintang yang bergoyang lantas di goyang gelombang rawa karena desir lembut angin lembah yang mendorong permukaan air halus dan dingin.
Dalam lamunan sejenak diatas sepeda motor . Mukthy menyalip pelan dan menatapku. Aku tahu wajah itu wajah pria nyaris tambun ini yang sudah kukenal dua tahun belakangan ini menggambarkan kerinduan akan makanan.hehe
Kami putuskan berhenti sejenak di sebuah kedai kecil tidak jauh lokasinya dari tempat tujuan kami . hangatnya Teh dan sepiring nasi goreng dan Kodok Budug yang membuka rahasia besar salah satu anggota termasuk saya . Kami larut dalam canda singkat prosesi makan malam dalam latar Banyubiru.
Sekilas tentang Bukit Cinta merupakan salah satu situs yang dikeramatkan warga sekitar rawa pening .di punggungan bukitnya terdapat menhir (batu nisan berupa patok petilasan Raja Brawijaya).hawanya yang teduh lantaran pepohonan pinus yang mengisi bukit Cinta sering didatangi rombongan keluarga untuk menggelar tikar sambil menikmati hidangan piknik mereka. lokasinya yang berada disisi barat Rawa membuat bukit Cinta disukai kalangan fotografer untuk berburu pemandangan.
Sesampainya kami disambut oleh papan bertuliskan Bukit Cinta dan mulut naga yang menganga hendak menerkamdan yang lebih pasti lagi penunggu lokasi wisata tersebut bapak Pandiman yang keesokan harinya saya akan menyambangi rumahnya dengan sebungkus pertanyaan sampai dikiranya seorang wartawan yang sudah berkeluarga ,nahlo??.
sesuai dengan peraturan setempat kami tidak di perbolehkan membuka tenda lantaran bukan tempat untuk Camping . Namun hal itu tidak mempupuskan jiwa petualang kami untuk tetap menikmati indahnya Rawa Pening. Dengan kemurahan hati, pak Pandiman menawarkan kami untuk menggelar matras kami di mulut naga tersebut . Kami bertebaran letih di dalam mulut naga sembari mempersiapkan tidur . Evi ,Iqbal ,dan Nunu mulai memasak . Sedangkan aku ,Mukthy ,mas Yanto,dan mbak Vita bermain kartu remi. lantas perbedaan kami yang sedang bermain kartu dan memasak tidak mematikan suasana malam dini hari itu. Tetap saja kami bisa bersendau gurau seperti biasanya dimanapun kami berada bagaimanapun kondisinya.
Di malam itu masyarakat disekitar Rawa Pening ramai menyambut malam Satu Suro.Masyarakat sekitar Rawa Pening mulai mendatangi bukit cinta dengan membawa hasil bumi untuk dipersembahkan sebagai wujud rasa syukur akan berkah dan hasil alam. Hal itu mempertegas keelokan budaya yang melekat setiap jengkal tanah jawa . hal ini mengingatkanku pada empat minggu lalu di salah satu pentas wayang kulit di Ponorogo . Dalam tabuh gamelan sang dalang memainkan tokoh- tokoh wayang dalam irama hidup dan gending . Gamelan mengisyaratkan irama hidup manusia . maksudnya adalah manusia itu hidup bersama-sama . Oleh karena itu,segala tingkah laku perlu disesuaikan dengan irama hidup lingkungannya . begitu juga yang terjadi di malam itu warga berduyun-duyun menyajikan hasil bumi untuk di persembahkan sebagai aktualisasi hidup selaras dengan alam sekitar. Namun hal itu belum cukup menambal kerusakan atau hilangnya suatu ekosistem yang terjadi akibat ulah manusia sendiri.
Ditengah panggilan Adzan subuh kami terbangun. Tajuk-tajuk fajar mulai memenuhi langit di timur . Wow buat kami ini pertanda baik. Langitnya yang cerah membuat kami ringkas membereskan sisa makan dan alas tidur kami. Nunu alias Kadiv Jurnalistik kita sudah setengah mati heran akan panorama Rawa Pening yang indah ,tidak sabar berlari mendaratkan diri disalah satu spot yang merupakan incaran para fotografer lokal .
Danau dangkal itu benar-benar wah buatku .Sudah empat kali aku menyambanginya namun tetap saja menyajikan hiburan tak terduga . keindahannya mengalun indah di benakku bagai simphoni .Bayangkan saja di sekelilingnya pegunungan mengitarinya bagai bendung besar .Di selatan Rawa Pening gunung Merbabu tepat berdiri menjulang dengan anak gunungnya. Di sebelah utaranya bukit-bukit perkebunan kopi membentang sepanjang Salatiga Boyolali dan gunung ungaran yang tenang memerah dalam sorotan matahari pagi. serta kabut pagi yang turut meramaikan dengan terbang rendah di celah pegunungan .
Kamerapun aktif merekam kejadian pagi itu. Semua pun ambil gaya termasuk aku. Seperti biasa Mukthy yang gemar duduk dengan kompor mulai memasak dengan keahliannya . lalu kegiatan kami berhenti sejenak dan merapat menikmati spagethi dan segelas teh .
Semenjak semalam mas Yanto meributkan soal pancingan dengan Mukthy . Kami pun tak bosan mendengarnya . Hingga terakhir pagi itu saya masih mendengarnya . Badanku mulai lemas dan tidak konsen akhirnya saya putuskan merebah . Entah apa yang akan terjadi setelah bangun tidur ini??
Aku pun terbangun . lantas tidak ada keramaian teman-teman yang lain .kemanakah mereka?? mbak Vita yang duduk mengantuk memandangi Rawa Pening disiang itu dengan hati yang damai kayaknya. Lantaran beliau sudah diujung untuk mendapatkan gelar ST-nya (Sarjana Teknik) yang datang beberapa minggu lagi.hehe selamat ya mbak!!
Aku senyum saja .Di kejauhan mas Yanto dan Mukhty anteng duduk di batang bambu di pinggiran sambil memancing . begitu juga Evi ,Iqbal ,dan Nunu turut sibuk memancing .nampaknya perdebatan semalam tidak perlu dibawa pulang ke Semarang lantaran mereka sudah menemukan pancingannya.
Rawa yang membentang lebar itu kini berubah di siang hari .arah angin yang menuju barat mendorong kawanan eceng gondok merapat memenuhi tepi barat Rawa Pening . dan pegunungan mulai diselimuti awan tebal menutupi puncak-puncak gunung yang enggan di hujani panas siang itu.
Seperti kataku diawal tentang wartawan yang sudah berkeluarga .saya mendatangi rumah pak Pandiman untuk menjawab pertanyaan-pertanyaanku yang heran bercampur rasa kekaguman Rawa Pening .Maklum bapak beranak tiga ini sudah 33 tahun jadi juru kunci di sini . dan perbincangan antara saya dan pak Pandiman berakhir dengan salam hangat bapak Pandi,panggilan akrabnya. “lain kali tidur dirumah saya saja mas” kata pak Pandi. Batinku melunjak “sekalian makanannya pak,hehehe”.
Buat kami malam Satu Suro bukanlah semistis yang kami bayangkan sebelumnya . Tetapi seperti malam-malam yang lain .diawali obrolan ringan sampe yang berat-berat ,bahkan urusan jodoh. Namun malam itu menyajikan kearifan budaya lokal yang jarang terekspos mahasiswa-mahasiswa seperti kami.
Menjelang sore kamipun bergegas pulang lantaran tugas yang menunggu di Tembalang. Disini status kami sebagai petualang pemburu kesenangan .Namun sepulangnya nanti kami seorang mahasiswa yang pulang bertualang dan belajar dari alam sekitar untuk lebih arief lagi sebagai insinyur kelak. Percaya deh!! :D
Tidak ada komentar:
Posting Komentar