Mengenai Saya

saya adalah seorang pecinta budaya lokal dan penggiat alam bebas . keseharian saya adalah seorang perancang bangunan sederhana dan rekayasa teknik sipil

Rabu, 28 Januari 2015

Bagaimana Ini Begitu Penting

Selamat datang di buah pikiran saya, buah yang belum matang dan butuh waktu untuk menjelma menjadi ranum. Suatu ketika kami berniat melanggengkan suatu gagasan yakni mendirikan sebuah kesenangan yang mencintai dua pertiga malam dan pergi ke tempat dimana cahaya pagi terlihat sangat cantik konon. Saya jatuh cinta pada pemandangan pada pandangan pertama dan kesan yang mendalam , lalu menyusun paragraf paragraf puitis , seakan akan kemenangan terus hadir dalam sosok pagi yang indah.

Dalam sekejap menembus lapisan udara di bumi , sang cahaya melesat dalam ruang udara . Cahaya adalah komoditas yang sangat berharga ,tak ada uang yang mampu membeli cahaya. Ia tak ingin didekati konon , panasnya lima belas juta kelvin di bawah payung korona . Ia adalah pesuruh Sang Khalik , Sang Pencipta , Sang Akbar , sebut saja ia Matahari.

Saya duduk di saat hembusan angin dingin yang lari dari terpaan sinar pagi. Desirnya angin membawa uap dari sesuatu yang dingin di bawah sana , lembaran angin membawa benih kehidupan . gunung gunung yang gundul akan segera tumbuh dan kembali hijau , benar saja ada teori yang mengatakan bahwa kehidupan bermula di laut .

Saya seruput kopi panas , lalu diam dalam waktu yang sengaja saya anggarkan di momen tersebut.

Di kemilaunya ada suatu fenomena bernama sunrise yang dipuja pendaki gunung , yang ditunggu dedaunan dan hewan hewan yang tersembunyi di sarang mereka. Saat itu tak ada lagi yang masalah yang lebih penting selain menyaksikan sang Matahari , terkecuali yang melewatkan. Tak ada mata tak ada hari , yang ada hanya karunia yang tak berbalas .

lalu pulang dengan masalah yang saya siap hadapi . Namun prosesi sunrise belum berakhir , saya dan kawan kawan akan berhenti di suatu warung yang siap menyambut orang orang seperti kami. Bagi warung tersebut kami adalah penglaris , pemberi harapan selain matahari . Kami adalah doanya , maka barang wajib baginya (sang warung) untuk menyediakan segelas teh dan sepiring makanan bergizi agar kami siap menjalani hari.

Lalu timbulah suatu kekhawatiran mengenai alam yang tak pernah cepat membalas dosa kami. Pohon pohon gundul kembali , bising knalpot naik ke atas bukit yang di petakkan. Semoga kehadiran pencari sunrise mengubah persepsi sang ego . Ego ialah susunan keinginan manusia untuk memenangkan suatu pertempuran pribadi di atas keinginan bersama .

Semoga waktu yang di tunjukan sang matahari adalah petunjuk dari Nya Sang Khalik , Sang Pencipta , Sang Akbar .

Begitulah kami memaknai suatu pagi. Kalau tidak kesampaian genteng rumah juga lumayan sebenarnya . :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar