Semua kesenangan ini bermula dari segerombolan
mahasiswa Teknik Sipil Universitas Diponegoro yang menggunakan waktu
senggangnya bepergian mencari pemandangan. Tempat seperti Parang Tritis menjadi
tujuan kami kala itu. Kami tidak begitu paham tentang maksud perjalanan itu,
sampai ketika kami sampai di selatan jogja tepatnya jalan ringroad selatan.
Pepohonan kelapa dan hembusan angin selatan di waktu menjelang subuh menandakan
laut tak jauh dari situ .
Mengendarai sepeda motor bebek lalu lintas pagi
buta tidaklah menghambat kecepatan kami menuju selatan jogja. Kala itu spanduk
politik tersebar di tepi jalan , Soni si kurus mengajak kami berhenti mencuri
spanduk politik tersebut. Kami cukup percaya diri kala itu dan berkeyakinan
bahwa spanduk tidaklah baik untuk jalan raya , karena dapat mengganggu
pemandangan dan dapat berakibat buruk lainnya. Dua hingga lima spanduk besar
sudah kami ambil. Tertawa sambil ugal ugalan di jalan mewarnai hari perjalanan
kami.
Sesampainya di salah satu spot Parang Tritis
, Spanduk tersebut menjadi alas tidur kami yang lelah berkendara puluhan
kilometer dari kota Semarang. Pukul 03.00 hangat mesin sepeda motor mulai
hilang , panas tubuh pun menurun di terpa angin laut yang dingin. Yang membuka
jaket kembali menggunakan jaket. Tak kami lewati sambil menikmati sebatang
rokok.
Tak ada matahari, yang ada cuma bintang di
jauhnya angkasa . Semua berbaring sibuk bertanya di dalam diri , sambil
berbincang masalah yang sama. Lelah yang hinggap sudah pergi , kami lekas
bangun merasakan air laut yang mencoba naik ke daratan.
Itu dia sang Matahari yang hendak muncul
lewat pesonanya , warna langit perlahan membiru gelap , lalu membiru terang di
sambung cahaya putih kekuningan di timur jauh.
Anak laki laki mencari matahari terbit ,
penat hilang , dingin hilang dan gelap hilang . Wajah wajah cantik mulai
terlihat , paras jogja , paras turis domestik maupun internasional terlihat
berbaur menjadi pemandangan favorit.
Ini tidak lah keren dibanding pria dan wanita
yang bertemu di suatu pesta taman ,dengan untaian lampu kuning kecil di ranting
pohon. Persepsi kami tentang keindahan melampaui kesenangan buatan yang
sempurna. Kami tidak berkeyakinan , kami hanya senang begini .
Kesenangan berburu cahaya matahari pagi .
Begitulah kami (boys looking for sunrise).


romantisme masa lalu, kini tinggal kenangan
BalasHapus